Tulisan ini sebagian besar hanya cerita perjalananku saja. Kalau kamu hanya ingin membaca informasi terkait pendakian, bisa langsung klik: Estimasi Waktu Pendakian Prau via Wates
Akhirnya, aku bisa melihat langsung dua gunung yang menjadi referensi gambar di salah satu minuman kemasan itu. Tiga tahun lalu, saat pertama kali mencoba untuk melihat mereka, hanya tembok putih yang aku lihat. Kalau kata Ridho, “Ini mah Rindu Alam Puncak!”. Meskipun aku belum pernah melihat kabut setebal ini di Puncak-Bogor, aku percaya saja.
Pendakian ke Prau kali ini dimulai dari ajakan oleh teman lamaku, Made Genta. Orang-orang panggil dia Genta atau Génta. Terserah, tapi aku panggil dia Made saja. Tujuan pendakian awalnya adalah Sumbing. Tapi, setelah aku tanya, siapa saja yang ikut, aku sarankan untuk mendaki Prau saja. Dia mengajak dua orang lainnya, pacar dan salah satu temannya yang ia kenal saat bekerja di Australia. Made sempat menjadi seleb karena salah satu Instagram post-nya viral di jagat maya Indonesia. Kebetulan dia memperlihatkan jakun sebagai tanda almamaternya, dan pekerjaan yang dia ambil cukup unik, warga nampaknya begitu antusias mengamplifikasi postingannya. Aku turut senang, dan sesekali menumpang tenar ke teman-teman lain, “Ini temen gue kuliah lho,” kataku setiap ada kesempatan menceritakan dia.
Kembali lagi, dua orang yang dia ajak untuk naik gunung belum punya pengalaman. Ini akan menjadi pengalaman pertama mereka. Aku tidak ingin membuat mereka “trauma”, jadi aku sarankan untuk naik Prau. Wates jadi pilihan karena aku tahu jalurnya, meskipun lebih panjang daripada jalur lainnya, lebih sepi. Dengan jalur yang sedikit lebih sepi, aku rasa akan membuat pendakian lebih mudah. Mereka akan punya lebih banyak waktu untuk beristirahat dan menikmati pemandangan, tanpa harus terganggu dengan antrian warga.
Bertemu Kabut (Lagi)
Kami memulai pendakian pukul 11.00 WIB. Terlalu siang jika dibandingkan dengan pendakian-pendakianku yang lain. Ini pun sebenarnya sudah lebih cepat dibanding 3 tahun lalu saat aku pertama kali ikut open trip Prau. Menurut tour leader kami, perjalanan relatif cepat, jadi tidak perlu terburu-buru. “Biar ga gabut,” katanya.
Kami sempat berpikir untuk mendahului rombongan. Kami rasa, lebih baik berjalan pelan dan bersantai di jalur pendakian, daripada harus duduk sambil dihinggapi lalat-lalat yang ada di basecamp. Tapi, tour leader kami tidak mengizinkan.
Untuk menuju Pos 1, kami memilih naik ojek. Perjalanan 45 menit dipangkas jadi tak lebih dari 10 menit. Sungguh menyenangkan sekaligus menegangkan. Kamu yang sudah pernah naik gunung dan naik ojek, pasti sudah tahu bagaimana ekstremnya jalanan yang dilalui ojek ini. Aku tidak sempat mendokumentasikannya. Tapi, kamu bisa bayangkan. Dua orang dewasa, menaiki motor trail, dengan tambahan carrier di depan motor, melewati jalanan yang lebarnya tak sampai 2 meter, dengan tikungan tajam dan lereng di sisi kanan atau kirinya, dan sangat mungkin berpapasan dengan motor dari lawan arah.
Saat tiba, kami disambut oleh kabut. Jujur, aku sedikit khawatir. “Kalau mau hujan hari ini aja, besok cerah ya,” ucapku terus menerus selama perjalanan. Di Pos 3, kabut bahkan sangat tebal. Kami hanya bisa melihat siluet pendaki lain. “Keren banget nih, kabut Folklore,” kata Made. Aku tertawa karena mengerti referensi candaan Made. Pemandangan saat itu memang mirip dengan cover album Folklore milik Taylor Swift.
Saking tebalnya kabut, saat kami melewati tanjakan percabangan Bukit Rindu dan menuju Cemoro Tunggal, tanah menjadi basah. Tak terkecuali badan dan barang bawaan kami. Sebagian pendaki bahkan sudah menggunakan jas hujan. Aku semakin khawatir esok cuaca juga berkabut.
Menghangatkan
Terakhir kali melihat layar handphone, waktu menunjukkan pukul 21.10 WIB. Setelah itu, aku sudah lelap, dan melupakan suara dengkuran dari tenda sebelah. Tengah malam, sempat terdengar beberapa suara di luar tenda. Nampaknya mereka sedang berusaha memfoto bintang.
Aku terus berusaha menggulung dan menghangatkan diri karena ritsleting kantong tidurku terus saja terlepas. Aku lupa sejak kapan itu rusak, tapi aku memang ingat itu sudah beberapa kali terlepas saat kucoba untuk tutup. Nanti, kalau ingat, aku akan coba perbaiki.
Sekitar pukul 04.00 WIB, suara di luar tenda makin ramai. Orang-orang sudah bersiap untuk menuju puncak Prau. Aku sudah mengganti celana, memakai kupluk, dan sarung tangan. Tapi, aku melanjutkan tidurku karena belum mendengar aba-aba dari tour leader.
Teman-teman memanggilku dari luar tenda dan mengajak summit. Ku lihat layar handphone, ternyata sudah hampir pukul 05.00 WIB. Kata mereka, warga lainnya sudah berangkat. Ternyata tour leader kami memang tidak memanggil semua rombongan.
Dari Cemoro Tunggal, kami berjalan tak sampai 10 menit. Kami sudah disuguhkan langit oranye dan pucuk Sumbing-Sindoro. Sambil berfoto-foto, matahari pun mulai muncul. Sinarnya pun mulai menghangatkan badan para pendaki. Si kembar semakin jelas terlihat. Rasanya sangat amat menyenangkan karena bisa melihat mereka langsung, bukan dari foto, bukan dari kemasan air minum botol. Aku sangat bersyukur karena remedial kali ini berhasil. Saat itu, rasanya ingin segera pamer ke Ridho kalau aku tidak lagi mendapat tembok putih.

Dengan effort mendaki yang minimum, pemandangan yang diberikan Prau memang luar biasa.
Bonus
Sepanjang perjalanan, salah satu yang kami cari adalah keberadaan Kopdes. Posisi bangunan ini persis di area basecamp. Seharusnya, Koperasi Merah Putih Desa Wates jadi koperasi tertinggi, karena terletak 1675 MDPL.

Estimasi Waktu Pendakian Prau via Wates
Karena ikut open trip, seluruh biaya pendakian sudah include dalam harga trip yang aku gunakan. Kalau kamu registrasi secara mandiri, siapkan Rp35.000 untuk registrasi. Yang ingin mempermudah hidup, siapkan Rp25.000 untuk ojek ke Pos 1. Harga untuk sekali jalan, ya.
Estimasi waktu pendakian (dengan jalan santai dan banyak istirahat), kira-kira seperti ini.
- Pos 1 (Blumbang Kodok) – Pos 2 (Cemaran): 30 menit
- Pos 2 (Cemaran) – Pos 3 (Sundung Dewo): 45 menit
- Pos 3 (Sundung Dewo) – Plawangan: 45 menit
- Plawangan – Camp Area Cemoro Tunggal: 20 menit
