“Slamet mumet!”. Kalimat itu muncul ketika aku dan teman-teman open trip lainnya dalam perjalanan menuju campsite, Pos 5 Samhyang Rangkah. Gunung Slamet menjadi pendakian ketigaku di tahun 2023. Perjalanan menuju “Atap Jawa Tengah” benar-benar membuatku terengah-engah. Namun, keberhasilan sampai puncak dan kembali dengan selamat, serta pemandangan alam yang sangat memukau sudah cukup membayar kemumetan yang kualami.
Ini ceritaku selama kurang lebih 8 jam menuju puncak Gunung Slamet. Melelahkan namun menyenangkan.
Kalian yang ingin melihat detail waktu perjalannnya, bisa langsung klik disini itinerary Pendakian Gunung Slamet via Bambangan.
Bisa Naik Ojek Biar Gak Capek
Kami tiba di basecamp pukul 6 pagi. Basecamp yang kami tempati milik Pak Oji. Dari basecamp menuju Pos 1, bisa memakan waktu kurang lebih 1 jam. Biar gak terlalu capek, kalian bisa naik ojek dari basecamp sampai pos bayangan atau pos 1. Tarif ojek dari basecamp Gunung Slamet ke pos bayangan adalah Rp30 ribu. Kalau mau lebih cepat, kalian bisa naik ojek sampai pos 1 dengan tarif Rp60 ribu. Tentu saja aku memilih untuk naik ojek. Ya, hitung-hitung berkontribusi meningkatkan perekonomian warga sekitar (chuaaksssss padahal sebenarnya mager).
Ojek ke Pos Bayangan kurang lebih 10 menit. Kalian akan melewati kebun-kebun warga yang mayoritas menanam kentang. Setelah melewati kebun, jalurnya cukup ekstrem. Tanah licin serta tanjakan cukup membuatku untuk menahan nafas. Di tengah perjalanan, mas-mas ojek masih sempat basa-basi, menanyakan asalku dari mana, ikut trip apa, dan beberapa pertanyaan lainnya. Aku berusaha menjawab, tetapi sambil membatin, “MAS BOLEH FOKUS BAWA MOTOR AJA GAK??!!!”.
Nanjak Terus, Gak Ada Bonus
Sebelum pendakian dimulai, leader kami, bang Japra, menjelaskan kalau jalur pendakian Slamet via Bambangan 85% adalah tanjakan. Sisanya adalah jalur datar. Dan nampaknya, 15% bonus alias jalan datar itu hanya ada di pos-pos peristirahatan.
Jalur pendakian lewat Bambangan adalah jalur terpendek. Jalur ini didominasi tanah. Selain itu, cukup banyak akar-akar pohon, yang kalau tidak hati-hati, bisa bikin kalian tersandung. Vegetasi cukup rapat. Ada beberapa jalur yang membuatku harus merunduk karena masih tertutup pepohonan. Kalian akan melihat banyak pohon-pohon besar, dengan ranting yang menjuntai panjang seperti gambar ini. Ditambah kabut, terasa amat mystical.

Di beberapa jalur, misalnya dari Pos 2 ke Pos 3, juga banyak terdapat kerikil dan tanah yang sedikit berpasir. Kalau kalian mendaki gunung Slamet di musim kemarau, pastikan membawa masker atau buff untuk mengurangi debu masuk ke saluran pernafasan.
Kelaparan? Bisa Jajan
Jika kalian kekurangan makanan atau minuman, tidak perlu khawatir. Dari total 9 pos, kalian bisa menemukan warung di Pos 1, Pos 2, Pos 3, Pos 5, dan Pos 7. Mereka menjual makanan dan minuman, mulai dari mendoan, lontong, air mineral, minuman rasa-rasa, teh, kopi, dan buah-buahan. Favoritku adalah semangka dan nanas. Makan buah di gunung memang terasa menyegarkan. Semangka dan nanas dijual Rp3 ribu per potong. Nanasnya manis banget! Kata salah satu pendaki yang aku temui, itu adalah nanas madu yang ditanam di daerah Pemalang.

Oh iya, semakin ke atas biasanya harganya semakin naik. Salah satu temanku sempat membeli air mineral 600 ml di Pos 7 seharga Rp17 ribu. Di Pos 3, harganya Rp10 ribu. Ya, aku rasa harganya sebanding dengan usaha yang dikeluarkan untuk membawa barang-barang tersebut.
Kalau kalian tidak ingin membawa logistik yang banyak, cukup siapkan uang yang banyak, hehehe.
Makin ke Atas, Makin Gak Waras
Jalur semakin tidak waras karena beberapa kali lutut harus bertemu dengan dada. Apalagi jalur menuju puncak gemilang cahaya. Pos 9 menuju puncak slamet penuh dengan batu kerikil dan pasir. Ini pertama kalinya aku melewati jalur seperti ini. Cukup membuatku ketakutan. Setiap mendengar bunyi “sreekkk” karena ada yang terpeleset, aku langsung terdiam karena takut ikut terjatuh. Aku sempat hampir menyerah sebelum sampai puncak. Tapi, aku mencoba memberanikan diri karena tidak ingin remedi.

Perjalan turun sebenarnya lebih menyeramkan bagiku. Melihat ke bawah, rasanya akan login ke dunia lain kalau sampai terjatuh. Syukurnya, aku bisa berhasil kembali meskipun menjadi orang terakhir dari rombonganku yang turun dari puncak Slamet.
View dari jalur ini juga gak waras. Kalian bisa lihat lautan awan jika beruntung. Kalian juga bisa melihat sunrise yang amat sangat indah disini. Dari kejauhan juga kalian akan disapa puncak Sindoro-Sindur.

Itinerary Pendakian Gunung Slamet via Bambangan
Seperti biasa, pendakian ini aku ikut open trip dari Tigadewa Adventure. Untuk itinerary pendakian Gunung Slamet via Bambangan kira-kira seperti ini:
Day 1
- 21.30 Perjalanan dari Meeting Point UKI Cawang Jakarta Timur menuju Basecamp
Day 2
- 06.00: Tiba di Basecamp. Istirahat dan persiapan pendakian
- 09.00: Start pendakian
- 15.00: Tiba di Pos 5
Day 3
- 02.00: Bangun dan persiapan summit, sarapan
- 03.00: Summit
- 06.00: Tiba di Puncak Gunung Slamet
- 07.00: Turun kembali ke Pos 5
- 09.00: Makan dan repacking
- 11.00: Turun menuju Basecamp
- 15.00: Tiba di Basecamp. Istirahat makan dan bersih-bersih
- 18.00: Perjalanan menuju Jakarta
Estimasi Waktu Pendakian Gunung Slamet via Bambangan
Sebagai gambaran, berikut ini adalah estimasi waktu perjalanan untuk tiap pos. Tentu saja waktu tempuh akan berbeda-beda, tergantung kondisi cuaca serta stamina pendaki.
Basecamp menuju Campsite (Pos 5 Samhyang Rangkah) – Estimasi 5 Jam
- Basecamp – Pos Bayangan 15 Menit (Ojek)
- Pos Bayangan – Pos 1 Pondok Gembirung (40 Menit)
- Pos 1 – Pos 2 Pondok Walang (1 Jam)
- Pos 2 – Pos 3 Pondok Cemara (1,5 Jam)
- Pos 3 – Pos 4 Samaranthu (1 Jam)
- Pos 4 – Pos 5 Samhyang Rangkah (45 Menit)
Summit ke Puncak Slamet 3428 MDPL – Estimasi 3,5 Jam
- Pos 5 – Pos 6 Samhyang Ketebonan (20 Menit)
- Pos 6 – Pos 7 Samhyang Kendit (30 Menit)
- Pos 7 – Pos 8 Samhyang Jampang (15 Menit)
- Pos 8 – Pos 9 Pelawangan (40 Menit)
- Pos 9 – Puncak (1,5 Jam)