5 tahun sudah sejak terakhir aku berkunjung ke Jogja. Liburan ke Jogja kali ini menjadi penutup perjalananku dan kawanku, Tom, setelah menyelesaikan pendakian Merbabu via Suwanting (nanti kami ceritakan seperti apa jalur yang katanya ‘sinting’ itu). Ini juga menjadi tulisan pertama segmen Tastebud Tour di blogku.
Sebelum berangkat, kami mencoba mengumpulkan rekomendasi dari teman-teman kami, yang sudah pernah berkunjung maupun warlok. Dari puluhan tempat yang direkomendasikan, ini 6 tempat makan di Jogja yang kami kunjungi.
Tengkleng Bhenjoyo
Makan malam pertama kami di Jogja adalah tengkleng. Salah satu kedai tengkleng yang direkomendasikan oleh teman kami adalah Tengkleng Bhenjoyo yang terletak di Alun-Alun Utara Jogja.
Tengkleng merupakan masakan sejenis sup dengan bahan utama tulang kambing. Konon katanya masakan ini tercipta dari para juru masak yang tidak bisa menikmati daging kambing karena hanya diperuntukkan bagi bangsawan dan orang-orang Belanda. Mereka kemudian mengolah kepala, kaki, dan tulang yang masih memiliki sedikit daging menjadi tengkleng.

Menurut kami, rasa dari kuah tengkleng ini nanggung (bukan berarti tidak enak ya). Kuah tengkleng rasanya tidak rich seperti kuah gulai, tapi juga tidak light seperti kuah soto/sop. Cita rasa ini mungkin cocok bagi teman-teman yang tidak begitu menyukai makanan dengan rempah kuat. Selain tengkleng dengan kuah, kedai ini juga menjual tengkleng goreng. Rasanya manis dan teksturnya juga mudah untuk dikunyah.
Tengkeng Bhenjoyo mulai menjual menu tengkleng sejak 2010. Saat ini terdapat empat cabang, yaitu cabang Kasongan, cabang Mantrijeron, cabang Alun-Alun Utara, dan cabang kaki lima Jokteng. Uniknya, seluruh proses memasak dilakukan di satu tempat, yaitu Dapur Tengkleng Bhenjoyo yang berada di Jl. KH. Ali Maksum, Panggungharjo, Bantul, sehingga rasa dari tiap-tiap cabang seharusnya tetap sama. Jika ingin berkunjung, pastikan tidak datang di hari Kamis karena seluruh cabang termasuk dapur tutup di hari Kamis.
Griya Dhahar RB
Setelah mengunjungi Museum Sonobudoyo, kami melanjutkan makan siang ke Griya Dhahar RB. Restoran yang terletak di Pakualaman Yogyakarta, tepatnya di Jl. Jagalan – Beji No. 36 Purwokinanti, menyajikan berbagai makanan dengan nuansa rumahan priyayi Yogyakarta tempo dulu.
Melihat nama-nama makanan yang belum pernah kami dengar, serta harga yang cukup ramah kantong, pesanan kami cukup banyak. Bahkan terasa sedikit berlebihan untuk dua orang, hahahaha (tenang, kami makan habis semua kok). Kami memesan lima makanan yaitu Sop Manten, Bistik Komplit, Cok Ganem Romo Kanjeng, Uter-Uter, dan Brongkos Iga.

Menu pertama yang kami coba adalah Sop Manten. Rasa kuahnya sederhana, mungkin bumbunya hanya menggunakan bawang merah dan bawang putih. Tapi isinya cukup beragam, seperti sosis, kacang polong, wortel, dan kembang kol. Dari beberapa sumber, sop yang dihidangkan pada saat pernikahan ini memiliki banyak makna filosofis, seperti mengajak kita untuk tetap sederhana (sesederhana rasa kuahnya) serta menjaga keharmonisan dalam keberagaman (seperti isi dari sop manten).
Menu berikutnya yang kami pesan adalah bistik komplit. Bistik daging sapi disajikan dengan beberapa sayuran seperti buncis dan wortel. Mereka juga menyajikannya dengan telur dan kentang. Daging dari bistik dimasak dengan baik, namun kami kurang puas dengan saus. Selain seasoning yang kurang, tekstur dari saus terlalu encer. Kami menyukai tekstur saus yang lebih kental dengan rasa yang lebih kuat, sehingga bisa meningkatkan rasa ketika dimakan dengan sayur dan daging sapi.
Kami juga memesan Cok Ganem Romo Kanjeng atau umum juga dikenal dengan nama gecok ganem. Menu ini berisi bola daging sapi seperti bakso, namun teksturnya lebih kasar. Rasanya gurih dan sedikit manis. Menu ini menggunakan kuah santan, mirip seperti sayur lodeh, dengan dominan rasa manis. Mereka juga menyajikannya dengan irisan cabai hijau dan merah serta bawang goreng yang menambah aroma serta keseimbangan rasa. Hidangan ini disajikan sesuai dengan namanya. “Gecok” dalam bahasa Jawa berarti dicincang atau dihancurkan, sedangkan “Ganem” berarti manis. Kami suka tekstur dari daging sapi cincang dan kombinasi dengan kuah santan lembut dan manis yang sangat sopan ketika masuk ke mulut. Dari seluruh menu yang dipesan, ini menjadi menu favorit kami.
Berikutnya, kami mencoba Uter-Uter Tahu. Uter-Uter ini merupakan salah satu menu spesial karena merupakan menu makan siang sehari-hari Adipati Pakualaman kedelapan, KGPAA Paku Alam VIII. Dari beberapa resep yang kami baca, Uter-Uter Tahu dimasak dengan berbagai rempah dengan kuah santan. Selain itu, di dalam santan juga ditambahkan telur yang dikocok, sehingga menjadi kuah yang kental. Sayangnya, yang disajikan saat kami datang ke restoran ini berbeda dengan apa yang kami lihat di menu. Kuah santannya termasuk encer, dan kami tidak merasakan adanya tambahan telur pada kuah tersebut. Kami juga tidak merasakan rempah atau bumbu yang bisa membuat kami mengingat hidangan ini.
Brongkos merupakan salah satu makanan yang banyak ditemui di Jogja. Restoran ini menyediakan Brongkos Iga yang dimasak dengan berbagai rempah, salah satunya kluwek yang memberikan warna hitam dan rasa yang unik pada hidangan ini. Selain itu, brongkos juga disajikan dengan kacang tolo, tahu, kulit melinjo, serta cabai rawit utuh. Fun fact, brongkos adalah salah satu makanan kegemaran Sultan Hamengkubuwono IX dan pewarisnya Sultan Hamengkubuwono. Kami sangat menikmati menu ini. Rempah yang beragam, rasa khas keluwek, serta permain tekstur dari kacang tolo, kulit melinjo, dan tahu juga membuat kami senang ketika melahap hidangan ini, meskipun untuk selera kami ini sedikit terlalu asin.


Selain makanan, kami juga menyukai suasana restoran ini. Pemilihan interior yang klasik menambah experience ketika kami menyantap makanan yang sajian. Kami juga cukup puas dengan pelayanan yang diberikan oleh petugas. Saat kami berkunjung, tidak terlalu banyak pelanggan yang datang, sehingga kami bisa menikmati waktu dengan santai.
Rujak Es Krim Pak Nardi

Sebagai kaum yang suka bereksperimen dengan makanan, tempat ini menjadi salah satu rekomendasi yang menarik perhatian kami. Namanya, Rujak Es Krim Pak Nardi. Lokasinya ada di Jalan Harjowinatan, Pakualaman.
Es krim yang disajikan adalah jenis es puter santan yang klasik. Es ini kemudian dipadukan dengan rujak. Rujaknya menggunakan beberapa irisan buah seperti bengkoang, pepaya, timun, dan mangga. Tekstur es krimnya cukup lembut. Es krim ini rasanya tidak terlalu manis, sehingga masih cocok dengan dengan rasa rujak yang asam, gurih, dan sedikit pedas.
Bagi kami berdua, yang terbiasa dengan kombinasi makanan unik, kombinasi rujak es krim ini sangat mudah kami terima. Menurutku rujaknya kurang rasa asem, terasa malu-malu di mulut. Aku mengharapkan rasa asam yang lebih kuat sehingga bisa memberikan efek segar. Aku pun terbiasa biasa makan rujak yang bumbunya menggunakan terasi bakar, sehingga rasa gurihnya pun masih perlu ditambahkan.
Sate Klatak Pak Pong

Sedikit menjauh dari pusat Jogja, makan malam hari kedua kami memutuskan untuk mengunjungi Sate Klatak Pak Pong.
Sate klathak adalah hidangan sate kambing khas dari daerah Bantul, Yogyakarta. Uniknya, sate ini ditusuk dengan besi. Tusukan besi ini membuat daging lebih cepat matang merata karena sifat konduktor panasnya yang baik. Dari segi bumbu, biasanya sate klathak hanya menggunakan garam dan sedikit merica. Rasa yang ingin ditonjolkan adalah rasa asli dari daging kambing. Selain itu, sate klathak biasanya disajikan dengan gulai kambing yang kaya rempah.
Meskipun sate ini termasuk enak, kami mendapat pengalaman yang kurang mengenakkan saat berkunjung ke tempat ini. Kami pesan 3 porsi sate klathak, 1 sate biasa, serta nasi dan es teh. Kami menunggu lebih dari 1 jam, padahal kami datang pukul 21.37 WIB dan kondisi restoran tidak ramai. Yang lebih buruk, makanan yang datang semua dalam kondisi dingin. Bahkan untuk nasi yang seharusnya bisa disajikan hangat, bagian luarnya sudah kering. Soal rasa, kami berdua tidak komplain. Tapi karena makanan yang disajikan dingin dan waktu tunggu yang relatif lama, ini menjadi tempat dengan pengalaman yang tidak menyenangkan untuk perjalanan kami.
Moerni 78
Di hari ketiga, kami makan siang di kedai Moerni 78. Kedai ini terletak di Jl. Tukangan No.45, Tegal Panggung, Kec. Danurejan, Kota Yogyakarta.

Kami pesan tiga menu, Bakmoy, Chikstik, dan Es Setub Komplit. Kami baru pertama kali mencoba Bakmoy. Bakmoy ini adalah nasi dengan topping daging ayam beserta kuah kaldu ayam bening. Bakmoy juga disajikan dengan potongan telur. Rasanya gurih dan cukup manis di lidah kami.
Chikstik yang disajikan di kedai ini adalah bistik yang dengan galantin ayam. Selain itu, ada telur mata sapi serta potongan sayuran seperti wortel, buncis, tomat, dan timun. Saus yang disajikan cukup encer jadi terkesan seperti kuah.
Es Setub Komplit yang kami pesan adalah es buah dengan potongan nanas dan jambu biji. Cukup unik karena sangat jarang melihat es buah yang menggunakan jambu biji. Es ini juga disajikan dengan potongan jeli, nata de coco, dan biji selasih.
Dari menu yang dipesan, kami belum menemukan rasa makanan yang spesial selain es setub dengan jambu biji. Setelah kami lihat review lain, menu yang direkomendasikan dari kedai ini adalah Es Teler. Sayang kami tidak pesan menu tersebut karena di sore hari kami berencana untuk makan gelato. Jika ada kesempatan kembali, mungkin kami akan mencoba Es Teler legend itu.
Tempo Gelato
Meskipun cuaca sedikit dingin karena sempat turun hujan, kami tetap mengunjungi Tempo Gelato. Karena sudah pernah berkunjung sebelumnya, tujuan kami adalah menemukan kombinasi rasa baru. Selain varian rasa umum seperti coklat, vanila, dan stroberi, Tempo Gelato juga menyajikan beberapa rasa unik seperti sereh dan kemangi.
Kami berdua memesan gelato cup dengan tiga rasa. Rasa yang kupilih yaitu raspberry, black coffee, dan choco orange, sedangkan Tom pilih rasa kemangi, tiramisu, dan matcha. Aku sempat protes karena Tom memilih matcha, padahal ada rasa unik lain yang dibandingkan rasa yang boring itu. Tapi ternyata itu karena miskom dengan mas-mas yang menyajikan gelato, hahahaha. Oh iya, sebelum memilih rasa, kita bisa mencicipi dua rasa (atau tiga ya?) secara gratis.

Dari kombinasi enam rasa yang kami pilih, kami menemukan dua favorite combo. Pertama, raspberry dengan choco orange. Rasa segar, asam, dan manis raspberry cocok dengan asam dari jeruk. Rasa sedikit pahit dari coklat juga cocok. Semua rasa bersatu dan melengkapi satu sama lain. Kedua, kami suka dengan campuran rasa raspberry dengan kemangi. Paduan segar, asam, manis dari raspberry dengan aroma dan sedikit hint ‘pedas’ khas kemangi sangat-sangat menyegarkan.
Gudeg Yu Djum
Tak lengkap kalau tidak mencoba gudeg saat ke Jogja. Urusan ini, aku menyerahkan pada Tom yang sudah mencoba beberapa gudeg yang terkenal. Akhirnya, kami memilih Gudeg Yu Djum untuk makan malam sebelum kembali ke Jakarta. Tidak ada komplain, hanya satu kata, enak.

Gudeg menjadi penutup liburan kami, sekaligus menutup artikel Tastebud Tour kali ini. Meskipun tempat yang kami kunjungi rata-rata adalah tempat turis, tapi apa yang disajikan memang worth the hype. Namun, memang ada tempat yang terkesan overrated. Semoga cerita kami bisa membantu teman-teman untuk menemukan referensi wisata kuliner di Jogja. Sampai jumpa di segmen Tastebud Tour berikutnya!